7.09.2013

Menunggu 2 jam

Kamu tak kan percaya tentang cerita ini. Mungkin kamu sedang bahagia atau setidaknya-jatuh cinta. Aku yakin kamu tak kan mendengar bahkan mempercayai kisahku ini. Bagaimanapun aku tak peduli. Aku hanya ingin berbagi. 
You are sure late.

Aku datang tepat di tempat aku dan dia janjian, tepat waktu. Lalu aku menunggu, semenit, sepuluh menit, seratus menit, 2 jam. Bahkan aku tak kuasa lagi mengkonversikannya dalam menit. Aku baca "2" jam agar terkesan sedikit. "Yap, aku tidak menunggu lama".
Selama aku menunggu, orang-orang tak henti memandangiku memberikan kesan tak suka padaku. Aku pun tak berhenti memandang kanan-kiri, segala sisi bahkan segala detail pakaian yang aku kenakan. "Apa yang salah?"batinku. Lalu aku melihat semut merah besar yang memandangiku dengan penuh iba. Sepertinya dia menggumamkam sesuatu yang sayangnya aku tak mengerti. Mungkin kalau dia yang kutunggu sudah datang, aku akan bertanya padanya. Kudengar dia begitu hebat dalam berbahasa, semoga bahasa semut juga. 
Aku pun menghabiskan waktu menunggu dengan bersosialisasi, walau bukan arti sebenarnya. Orang-orang sekitar semakin menatapku, juga berbisik satu sama lain. Aku merasa tak nyaman. Tak aman. "Apakah aku harus menunggunya lebih lama lagi?". Atau pilihan lain, aku harus pergi dari sini. Semua mata tak berteman, tidak ramah. Aku takut. Tapi aku penasaran mengapa mereka seperti itu padaku. Penasaran ini yang menahanku tetap menunggu dia. Mungkin dia nanti bisa membantuku mencari tahu, atau membelaku kalau memang orang lain tak suka keberadaanku.

"Kamu percaya? Aku begitu ketakutan disini. Dia pun tak datang hingga penasaranku menguap. Aku dihinggapi malu. Dan akhirnya memutuskan datang padamu"

No comments:

Post a Comment