Senja ini begitu sempurna, namun kesempurnaannya sia-sia tanpa ada kau di sisiku. Dulu aku sering mengajakkmu melihat betapa menakjubkannya senja disini, sambil bergelayut manja ditanganmu aku memaksamu untuk membantuku menapaki jalanan bukit yang menanjak terjal ini. Lucu memang, tetapi itu mengesankan sekali.
“Sekali waktu aku ingin disini bersama anak-anak kita” manjaku waktu itu. Kau hanya memberikanku sebuah senyuman yang bagiku itu sangat memiliki makna yang dalam. Mungkin aku salah dalam mengartikan senyumanmu waktu itu. Aku tak tahu. Sekarang aku cuma bisa tersenyum kecut mengingat hal itu.
Aku berjalan lagi menapaki jalan yang membawaku ke atas bukit ini dimana aku bisa melihat betapa luas dan warna-warninya Malang Raya. Kita pernah beberapa kali kesini dan kau bilang bosan dengan pemandangan ini. Aku tahu kau menipu dirimu sendiri. Aku yakin kau suka berada disini dank au pasti merindukan tempat ini saat ini. Sayang aku tak tahu kau ada dimana. Kubuka handphoneku berniat untuk mengabarimu bahwa aku sedang berada di tempat favorit kita dulu, tapi tidak usahlah, kau pasti tidak akan membaca atau membalasnya. Aku ragu kau tetap menggunakan nomor ini, tapi keraguanku sedikit tertutup karena aku ingat semua pesan yang selama ini kukirim ke nomormu dulu delivered semua. Entahlah, aku terdiam melayangkan jauh pikiranku. “aku mengharapkanmu disini, sekarang” bisikku dengan menekankan pada kata sekarang seperti yang dulu sering aku ucapkan padamu. Aku tertawa sendiri mengingat ekspresimu dulu ketika aku bersikap seperti itu. Ya, itu dulu, dulu sekali ketika kita belum saling mengerti.
No comments:
Post a Comment